Workshop Mobile Programming

Bandung, 9 April 2026 — PT Tech Mayantara Asia (TMA) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapabilitas teknis tim dengan menyelenggarakan workshop bertema mobile programming di kantor TMA, Bandung. Kegiatan ini menghadirkan Varyl, seorang software engineer TMA, sebagai pembicara utama yang membagikan wawasan mendalam terkait teknologi pengembangan aplikasi mobile modern.
Workshop ini diikuti oleh para developer dan tim teknis TMA, dengan fokus utama pada pemahaman dan perbandingan tiga teknologi populer dalam pengembangan aplikasi mobile, yaitu Flutter, FlutterFlow, dan React Native. Dalam paparannya, Varyl menjelaskan bahwa pemilihan teknologi tidak dapat dilakukan secara seragam, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, strategi pengembangan, serta kesiapan tim.
Varyl membuka sesi dengan menjelaskan perbedaan mendasar dari ketiga teknologi tersebut, dimulai dari bahasa pemrograman yang digunakan. Flutter dan FlutterFlow sama-sama menggunakan Dart, sementara React Native menggunakan JavaScript atau TypeScript. Ia menekankan bahwa pemilihan bahasa ini akan sangat berpengaruh terhadap kurva belajar tim serta kecepatan adaptasi dalam proses development.
Dalam aspek pengembangan, Flutter dan React Native umumnya digunakan dalam pendekatan full coding, yang memberikan fleksibilitas tinggi dalam membangun aplikasi kompleks. Sementara itu, FlutterFlow menawarkan pendekatan low-code berbasis drag-and-drop, yang memungkinkan pembuatan aplikasi secara cepat tanpa harus menulis kode secara mendalam.
Lebih lanjut, Varyl menjelaskan mengenai state management, yang menjadi komponen penting dalam pengembangan aplikasi. Flutter menggunakan pendekatan seperti Riverpod, Provider, atau BLoC yang biasanya dipisahkan dalam struktur file yang rapi. Di sisi lain, React Native memanfaatkan hooks seperti useState dan useEffect yang cenderung lebih sederhana namun tetap powerful.
Dalam sesi yang cukup menarik, Varyl juga membahas keunggulan dan kekurangan masing-masing teknologi dari sisi performa, skalabilitas, dan kemudahan kolaborasi. Flutter dikenal memiliki performa tinggi dengan rendering engine sendiri, sehingga mampu menghasilkan animasi yang halus. React Native memiliki keunggulan pada ekosistem yang luas serta kemudahan integrasi, sementara FlutterFlow unggul dalam kecepatan pembuatan aplikasi, terutama untuk kebutuhan MVP (Minimum Viable Product).
Namun demikian, ia juga menyoroti beberapa keterbatasan, khususnya pada FlutterFlow yang dinilai kurang fleksibel untuk pengembangan skala besar. Dalam beberapa kasus, hasil generate kode dari FlutterFlow dapat menjadi kompleks dan sulit dikembangkan lebih lanjut, sehingga sering kali perlu dilakukan rebuild dari awal untuk kebutuhan enterprise.
Selain membahas kondisi saat ini, Varyl juga memaparkan roadmap teknologi ke depan. Flutter, misalnya, terus berkembang dengan peningkatan pada performa grafis dan dukungan WebAssembly. React Native juga mengalami transformasi melalui arsitektur baru seperti Fabric dan TurboModules, sementara FlutterFlow mulai mengintegrasikan teknologi AI untuk mempercepat proses desain aplikasi.
Dalam konteks strategi bisnis, Varyl menekankan pentingnya memahami tujuan utama pengembangan aplikasi. Untuk kebutuhan go-to-market yang cepat, FlutterFlow menjadi pilihan yang menarik. Namun untuk pengembangan jangka panjang dan aplikasi berskala besar, Flutter dan React Native dinilai lebih unggul karena fleksibilitas dan skalabilitasnya.
Workshop berlangsung secara interaktif dengan sesi tanya jawab yang aktif dari para peserta. Banyak peserta yang tertarik untuk mendalami lebih jauh implementasi masing-masing teknologi dalam proyek nyata, terutama dalam konteks kebutuhan klien TMA yang beragam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya TMA dalam membangun budaya belajar yang berkelanjutan di lingkungan kerja. Dengan menghadirkan sharing session dari internal engineer seperti Varyl, TMA tidak hanya memperkuat kompetensi tim, tetapi juga mendorong kolaborasi dan inovasi dalam pengembangan solusi digital.
Melalui workshop ini, TMA berharap seluruh tim dapat memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dalam memilih teknologi yang tepat, sehingga mampu menghasilkan produk yang tidak hanya cepat dikembangkan, tetapi juga berkualitas tinggi dan berkelanjutan di masa depan.